Sabtu, 02 September 2017

“  PEMAHAMAN UMUM SAINS DAN KONSEP DASAR SAINS ’’
MAKALAH
Disusun Oleh :
Yourma Osnithia Wibowo (RRA1F116020)







PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
             AGUSTUS 2017



KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukurkita ucapkan ke hadirat Allah SWT, karena hanya atas berkah dan rahmat serat ridha-Nya semata, buku yang berjudul PEMAHAMAN UMUM SAINS DAN KONSEP DASAR SAINS terselesaikan.
Puji dan syukur kita panjatkan atas Kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-NYA serta kesempatan kepada kita semua, terutama kepada penulis, sehingga makalah yang berjudul “PEMAHAMAN UMUM SAINS DAN KONSEP DASAR SAINS” dapat terselesaikan, penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh Dosen mata kuliah Pengenalan sains untuk anak usia dini, Ibu Dra. Kasmiati, M.P.d.
Makalah ini berisikan tentang informasi mengenai PEMAHAMAN UMUM SAINS DAN KONSEP DASAR SAINS, terutama untuk para maha siswa, dosen dan masyarakat. agar dapat mencetak generasi yang berkarakter tinggi dan berakhlak mulia, serta pendidikan dapat menghilangkan penderitaan rakyat dari kebodohan dan ketertinggalan..
Kami menyadari, tulisan dalam makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, karenanya kepada pembaca yang budiman kritik dan saran pemikiran yang konstruktif yang bersifat membangun sangat diharapkan untuk revisi makalah ini selanjutnya. Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi usaha kita dan memberkahi makalah ini sehingga bermanfaat. Aamiin
 
                                                                                                         Jambi, 13 Agustus 2017   



     Penulis
                                                                       

i

DAFTAR ISI


Kata Pengantar.................................................................................................................. i
Daftar Isi............................................................................................................................ ii

Bab I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang................................................................................................... .... 1-3
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................................. .... 3           
1.3 Tujuan dan Manfaat........................................................................................... .... 3

Bab II
Pembahasan
2.1 Pemahaman umum sains dan konsep dasar sains............................................... .... 4-6        
2.2 Tujuan pengembangan pembelajaran sains di PAUD............................................. 6-7
2.3 Pentingnya pembelajaran sains untuk anak usia dini......................................... .... 8-9        
2.4 Pengajaran sains yang dapat dikembangkan melalui sains sebagai produk, sains sebagai proses, sains sebagai sikap..................................................................................................................................... 10-12
2.5 Acuan dalam pembelajaran sains............................................................................ 12-13

Bab III
Penutup
3.1 Kesimpulan............................................................................................................. 14
3.2 Saran.................................................................................................................. .... 14

Daftar Pustaka................................................................................................................... 15

 BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
            Pengetahuan adalah segala hal yang diketahui, baik tampak maupun tidak tampak oleh mata manusia. Arah proses ini tidak dapat ditentukan dengan pasti karena banyak sekali kemungkinan interaksi. Pada dasarnya  setiap aktivitas dalam kegiatan ini mempunyai potensi berpikir dan berkembang kearah tertentu tergantung potensi masing-masing dan juga tergantung pada lingkungan masing-masing.
            Ilmu adalah pengetahuan yang dibuatkan sistematiknya, ilmu pengetahuan mempunyai emapat ciri yaitu : objektif, metodologis, sistematis, universal. Sains (inggris: scinece) berasal dari kata latin “scientia” yang berarti (1) pengetahuan tentang, atau tahu tentang; (2) pengetahuan, pengertian, faham yang benar dan mendalam. Ilmu merujuk ke: (1) studi sistematis (systematical study), (2) tubuh pengetahuan yang terorganisasi (the organized body of  knowledge), dan (3) pengetahuan teoritis (theoretical knowledge). Dikutip dalam  ( Wonorohardjo Surjani : 11 ).
            Secara umum ilmu pengetahuan alam mempunyai ciri khas yang berbeda dengan ilmu pengetahuan lainnya. Kebanyakan ilmu pengetahuan alam di dapat secara empiris, yakni pengamatan langsung di alam. Sains atau ilmu pengetahuan alam adalah sekumpulan pengetahuan yang diperoleh melalui metode tertentu. Proses pencarian ini telah diuji kebenaranya secara bersama-sama oleh beberapa ahli sains dan pemirsanya. Dikutip dalam ( Wonorohardjo Surjani : 12 ).
Menurut James Conant dikutip dari (Pengembangan Pembelajaran Sains Pada Anak Usia Dini, Nugraha Ali: 3) mendefinisikan sains sebagai suatu deretan konsep serta skema konseptual yang berhubungan satu sama lain, yang tumbuh sebagai hasil serangkaian percobaaan dan pengamatan seta dapat diamati dan diuji coba lebih lanjut.
Menurut Abu Ahmadi :1991 dikutip dari (Nugraha Ali: 4 degan judul Pengembangan Pembelajaran Sains Pada Anak Usia Dini) memberikan pengertian sains sebagai ilmu teoritis yang didasarkan atas pengamatan, percobaan-percobaaan terhadap gejala alam berupa makrokosmos (alam semesta) dan mikrokosmos (isi alam semesta yang lebih terbatas, khususnya tentang manusia dan sifat-sifatnya).
Jadi kesimpulan dari uraian diatas pemahaman umum sains dan konsep dasar sains adalah sains dapat dipandang baik sebagai suatu penguasaan proses, maupun hasil atau produk sains serta program yang memfasilitasi pengembangan sikap-sikap sains. Sains (science) adalah pengetahuan alam yang terstruktur. Sains akan berkembang lebih mendalam kerena manusia senantiasa mengetahui hal-hal baru di alam dan menganalisisnya dalam kaidah-kaidah ilmiah dan universal.
Tujuan mendasar dari pendidikan sains adalah untuk dapat mengembangkan individu agar dapat melek terhadap ruang lingkup sains itu sendiri serta mampu menggunakan aspek-aspek fundamentalnya dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. Jadi harus fokus terhadap pada program pengembangan pembelajaran sains hendaklah ditujukan untuk memupuk pemahaman, minat dan penghargaan anak didik terhadap dunia di mana mereka hidup.
Jadi pada tahap perkembangan anak usia dini pentingnya pembelajaran sains untuk anak usia dini memfokuskan anak agar anak dapat memecahkan permasalahan dalam sains maupun di dalam kehidupan sehari-hari, anak dapat dilatih untuk gigih dan tekun dalam menghadapi berbagai kesulitan, dapat meningkatkan dan mendewasakan pertimbangan dalam menempuh jalan kehidupan. Oleh karena itu tujuan dari pendidikan sains hendaklah diarahkan pada penguasaan konsep dan dimensi-dimensinya, sehingga terbangun dari kesadaran akan kebesaran Tuhan Sang Maha Pencipta alam itu sendiri, yang ciptaannya kita pelajari selama ini.
Orang dapat dikatakan menguasai sains apabila cara kerja dia dalam mengenal, menggali dan mengungkap segala sesuatu yang terkait dengan alam ini serta segala permasalahannya yang mengikuti proses ilmiah dengan kata lain mengungkap metode ilmiah ( scientific method ). Contohnya adalah anak dapat diperkenalkan secara bertahap tentang prosedur dan teknik yang benar dalam mengenal alam dan fenomenanya secara sederhana seperti proses mengamati, menggolongkan, mengukur, menguraikan, menjelaskan, mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting tentang alam, merumuskan problem, merumuskan hipotesis, merancang penyelidikan termasuk eksperimen-eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data-data.
Bermain sambil belajar adalah kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa menggunakan alat yang menghasilkan informasi, memberi kesenangan, maupun mengembangkan imajinasi anak dan menyebabkan terjadinya perubahan perilku yang terjadi akibat interaksi antara individu dengan lingkungannya. Sains mengkaji fenomena alam yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Mengenalkan sains kepada anak dapat dilakukan dengan mengamati dan menyelidiki fenomena di lingkungan sekitar. Anak juga dapat diajak belajar sains melalui permainan dengan berbagai macam benda, misalnya air, kertas, tanah liat, daun-daunan, dan pohon sekitar sekolah dan sebagainya yg aman bagi anak.
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa pemahaman umum sains dan konsep dasar sains ?
2. Apa tujuan pengembangan pembelajaran sains di PAUD ?
3. Apakah pentingnya pembelajaran sains untuk anak usia dini ?
4. Bagaimana pengajaran sains yang dapat dikembangkan melalui sains sebagai produk, sains sebagai proses, sains sebagai sikap ?
5. Bagaimana acuan dalam pembelajaran sains ?
1.3 Tujuan
1. Agar dapat pemahaman umum sains dan konsep dasar sains.
2. Agar mengetahui tujuan pengembangan pembelajaran sains di PAUD.
            3. Agar dapat mengetahui pentingnya pembelajaran sains untuk anak usia dini.
4. Agar dapat mengetahui pengajaran sains yang dapat dikembangkan melalui sains sebagai produk, sains sebagai proses, sains sebagai sikap.
5. Agar dapat mengetahui acuan dalam pembelajaran sains.
           


BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pemahaman Umum Sains dan Konsep Dasar Sains
Sains (inggris: scinece) berasal dari kata latin “scientia” yang berarti (1) pengetahuan tentang, atau tahu tentang; (2) pengetahuan, pengertian, faham yang benar dan mendalam. Ilmu merujuk ke: (1) studi sistematis (systematical study), (2) tubuh pengetahuan yang terorganisasi (the organized body of  knowledge), dan (3) pengetahuan teoritis (theoretical knowledge). Dikutip dalam  Surjani Wonorohardjo ( 2011 : 11 )
Biasanya sains atau ilmu mempunyai makna yang merujuk ke pengetahuan yang berada dalam sistem berpikir dan konsep teoritis dalam sistem tersebut, yang mencakup segala macam pengetahuan mengenai apa saja. Dalam perkembangannya sains digunakan merujuk ke pengetahuan mengenai alam dan mempunyai objek alam dan gejala-gejala alam yang sering digolongkan sebagai ilmu alam (natural science).
Alam mengandung banyak sekali hal yang menarik untuk dikaji. Sejak awalnya manusia berhadapan dengan alam. Manusia purba menyesuaikan diri dengan alam, berlindung di gua-gua, mengantisipasi perubahan-perubahan musim, makan apa yang disediakan alam. Pengetahuan manusia berkembang, kemajuan tampak jelas karena manusia menggunakan akal budinya. Dikutip dalam Surjani Wonorohardjo ( 2011 : 1 ).
Menurut para ahli secara konseptual terdapat sejumlah pengertian dan batasan sains yang dikemukakan oleh para ahli. Menurut Amien dikutip dari Ali Nugraha ( 2008 : 3) mendefinisiskan sains sebagai bidang ilmu alamiah dengan ruang lingkup zat dan energy, baik terdapat pada makhluk hidup maupun tak hidup lebih banyak mendiskusikan tentang alam (natural science) seperti fisika, kimia dan biologi.
Menurut James Conant dikutip Ali Nugraha ( 2008 : 3) mendefinisikan sains sebagai suatu deretan konsep serta skema konseptual yang berhubungan satu sama lain, yang tumbuh sebagai hasil serangkaian percobaaan dan pengamatan seta dapat diamati dan diuji coba lebih lanjut.
Menurut Abu Ahmadi :1991 dikutip dari Ali Nugraha ( 2005 : 4 ) memberikan pengertian sains sebagai ilmu teoritis yang didasarkan atas pengamatan, percobaan-percobaaan terhadap gejala alam berupa makrokosmos (alam semesta) dan mikrokosmos (isi alam semesta yang lebih terbatas, khususnya tentang manusia dan sifat-sifatnya).
Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa sains itu bukan hanya pengetahuan ilmiah, tetapi juga sebagai human interprise (media penggali keuntungan dari alam) yang melibatkan operasional mental, keterampilan dan strategi, dan sebagainya yang dirancang manusia untuk menemukan jagat raya dan segala isinya yang tentunya dipruntukan bagi pemenuhan segala kebutuhan dan keperluan hidup manusia di dunia.
Jadi kesimpulan dari uraian diatas pemahaman umum sains dan konsep dasar sains adalah sains dapat dipandang baik sebagai suatu penguasaan proses, maupun hasil atau produk sains serta program yang memfasilitasi pengembangan sikap-sikap sains. Sains (science) adalah pengetahuan alam yang terstruktur. Sains akan berkembang lebih mendalam kerena manusia senantiasa mengetahui hal-hal baru di alam dan menganalisisnya dalam kaidah-kaidah ilmiah dan universal.
Dengan memahami pemahaman umum sains dan konsep dasar sains kita dapat mengembangkan pembelajarn sains untuk anak, termasuk bidang pengembangan lainnya memiliki peranan yang sangat penting dalam membantu meletakkan dasar kemampuan dan pembentukan sumber daya manusia yang lebih baik.
Peggy ashbrook ( 2003 ) dikutip dari Dwi Yulianti ( 2010 : 18 ) berpendapat jika kita ingin anak-anak kita mempunyai kinerja yang baik disekolah lanjutan, maka anak usia dini hendaknya dibiasakan bereksperimen sains untuk kehidupan selanjutnya. Oleh karena itu perlu diberikan dorongan atau stimulus untuk mendapatkan lebih banyak pengalaman sains sehingga anak mendapatkan suatu respon yang baik untuk memahami konsep dasar sains yang sesuai dengan tahap perkembangan usianya.
Kesadaran pentingnya pembekalan sains pada anak akan semakin tinggi apabila menyadari bahwa kita hidup di dalam dunia yang dinamis. Anak-anak sebagai generasi yang dipersiapkan untuk mengisi masa depan yang diduga semakin rumit, pembekalan sains bagi mereka menjadi mutlak, sehingga sains pada diri mereka muncul sebagai suatu cara untuk mencari kebenaran dalam kehidupannya kelak. Agar pembekalan sains pada anak dapat berjalan optimal, pembekalan sains betul-betul harus dipahami secara benar, lebih-lebih yang dikaitkan dengan karakteristik anak usia dini sebagai subyeknya.
2.2  Tujuan Pengembangan Pembelajaran Sains di PAUD
Salah satu langkah yang signifikan dan strategis, untuk dapat memberikan pembekalan yang optimal pada anak adalah didahului dengan memahami karekteristik dan tujuan pendidikan pembelajaran yang akan diterapkan pada pendidikan anak usia dini, termasuk dalam bidang pengembangan pembelajaran sains untuk pendidikan anak usia dini.
a.      Pentingnya tujuan dalam pembelajaran sains
Dikutip dalam Ali Nugraha ( 2005 : 24 ) setiap bidang pengembangan pembelajaran dalam khasanah pendidikan harus memiliki arah dan tujuan yang jelas yang menempatkan pada setiap bidang pengembangan pembelajaran dalam pendidikan anak usia dini, termasuk dalam bidang pembelajaran sains. Sehingga dalam menentukan dalam tingkat ketercapaian dan keberhasilan dari suatu program pembelajaran yang dikembangkan dan dilaksanakan.
Jadi dalam suatu tujuan yang dianggap terstandar dan memiliki karakteristik yang ideal, apabila tujuan yang dirumuskan memiliki tingkat ketepatan (validity), kebermakaan (meaningfulness), fungsional dan relevansi yang tinggi dengan kebutuhan serta karakteristik sasaran. Tujuan yang dikembangkan hendaklah dapat diamati dan dinilai secara mudah, sederhana dan praktis.
Dalam pengembangan pembelajaran sains terkait dengan fenomena-fenomena realitas sains yang ada dan terjadi selama ini. Sains sebagai salah satu alat pengungkap keberadaan dan rahasia alam raya  dan isinya atau sebagai salah satu sarana mencapai tujuan hidup manusia sangat penting untuk dipahami dan dikuasai. Tujuan dalam suatu program menjadi suatu keharusan keharusan, apabila pendidikan dan pembelajaran sains dipandang sebagai suatu proses dan dinamika yang terus menerus berkesinambung dan terpadu.
Oleh karena itu keyakinan dasar yang perlu dibina adalah jika sains diterapkan secara baik, maka ia akan menjadi sesuatu yang menjanjikan dalam kehidupan setiap orang. Sebaliknya jika sains tidak diterpkan dan tidak dikelola secara baik, kemungkina sains itu justru akan menjadi suatu bencana dan malapetaka bagi seseorang ataupun sekelompok orang secara luas.
Dalam Dwi Yulianti ( 2010 : 15 ) perkembangan anak pada pendidikan anak usia dini atau anak dalam fase praoperasional dapat dikenali dengan dengan kemampuan anak untuk melakukan kegiatan respresentasi mental, yaitu kemampuan untuk menghadirkan benda, objek, atau orang dan peristiwa secara mental.
Ini berarti anak mempunyai kemampuan untuk membayangkan benda, objek, atau orang dan peristiwa di dalam pikirannya. Anak dapat meniru terhadap pengamatan objek yang dilihat oleh anak. Oleh karena itu dalam penerapan materi sains untuk di pendidikan anak usia dini kita dapat mengenalkan berbagai konsep-konsep dasar sains yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari, sehingga anak dapat mengenal konsep-konsep sains yang sederhana yang sesuai dengan tahap perkembangan anak usia dini.
b.      Tujuan pengembangan pembelajaran sains pada anak usia dini
Tujuan pengembangan sains sejalan dengan tujuan kurikulum yang ada di sekolah, yaitu mengembangkan anak secara utuh baik pikirannya, hatinya maupun jasmaninya. Atau mengembangkan intelektual, emosional dan fisik-jasmani, atau aspek (domain ) kognitif, afektif dan psikomotor anak (Abruscato,1982) dikutip dalam Ali Nugraha ( 2008 :  24 ).
Jadi tujuannya adalah untuk membantu anak dalam mencapai kebutuhannya ( baik sekarang maupun yang akan datang nanti ) sesuai dengan kondisi lingkungan ekologi,ekonomi-sosial, dan kebutuhan-kebutuhan sebagai akibatdari perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan seni. Maka tetap harus ditemukan rumusan tujuan dari pendidikan sains terhadap anak, sehingga menjadi jelas arahnya.
Tujuan mendasar dari pendidikan sains adalah untuk dapat mengembangkan individu agar dapat melek terhadap ruang lingkup sains itu sendiri serta mampu menggunakan aspek-aspek fundamentalnya dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. Jadi harus fokus terhadap pada program pengembangan pembelajaran sains hendaklah ditujukan untuk memupuk pemahaman, minat dan penghargaan anak didik terhadap dunia di mana mereka hidup.
2.3  Pentingnya Pembelajaran Sains Untuk Anak Usia Dini
Menurut Liek Wilarjo (1988) dikutip dalam Ali Nugraha ( 2008 : 24 ) focus dan tekanan pendidikan sains terletak pada bagaimana kita membiarkan diri ( dalam hal ini diartikan sebagai diri anak ) dididik oleh alam ( perantaranya bisa guru atau orang dewasa ), agar kita menjadi manusia yang lebih baik. Menyediakan diri kita dibesarkan oleh alam ini untuk menjadi jujur dan tak berprasangka.
Menurut Leeper (1994) dikutip dalam Ali Nugraha ( 2008 : 25 ) ada empat hal dalam pentingnya pembelajaran sains untuk anak usia dini yaitu antara lain :
1.      Pentingnya pembelajaran sains pada anak usia dinj ditujukan agar anak-anak memiliki kemampuan memecahkan masalah yang dihadapinya melalui beberapa metode sains, sehingga terampil dan dapat menyelesaikan masalah.
2.      Pentingnya pembelajaran sains untuk anak usia dini adalah anak dapat mendasar, misalkan; tidak cepat-cepat dalam mengambil keputusan, dapat dilihat dari segala sudut pandang, berhati-hati terhadap informasi-informasi yang diterimanya serta bersifat terbuak.
3.      Pentingnya pembelajaran sains untuk anak usia dini adalah segala informasi yang diperoleh anak berdasarkan standar keilmuan yang semestinya, karena informasi yang disajikan merupakan hasil temuan dan rumusan yang obyektif serta sesuai kaidah-kaidah ilmiah.
4.      Pentingnya pembelajaran sains untuk anak usia dini adalah untuk menghayati sains yang berada dan ditemukan di lingkungan dan alam sekitarnya.
Kegiatan pembelajaran sains di pendidikan anak usia dini dirancang untuk membentuk perilaku dan mengembangkan kemampuan dasar yang ada dalam diri anak usia dini, dalam pelaksanaan pembelajaran sains yang dapat mengembangkan kemampuan fisik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, konsep diri, disiplin, kemandirian, seni, moral, dan nilai-nilai agama dapat tercapai secara terpadu dan optimal.
Menurut Suyanto ( 2005 : 158 ), pengenalan sains untuk anak usia dini dilakukan untuk mengembangkan kemampuan sebagai berikut :
a.       Eksplorasi dan investigasi, kegiatan untuk mengamati dan menyelidiki objek dan fenomena alam.
b.      Mengembangkan keterampilan proses sains dasar, seperti melakukan pengamatan, mengukur, mengkomunikasikanhasil pengamatan, dan sebagainya.
c.       Mengembangkan rasa ingin tahu, rasa senang, dan mau melakukan kegiatan.
d.      Memahami pengetahuan tentang berbagai benda, baik ciri, struktur, maupun fungsinya.
Bermain sambil belajar adalah kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa menggunakan alat yang menghasilkan informasi, memberi kesenangan, maupun mengembangkan imajinasi anak dan menyebabkan terjadinya perubahan perilku yang terjadi akibat interaksi antara individu dengan lingkungannya. Sains mengkaji fenomena alam yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Mengenalkan sains kepada anak dapat dilakukan dengan mengamati dan menyelidiki fenomena di lingkungan sekitar. Anak juga dapat diajak belajar sains melalui permainan dengan berbagai macam benda, misalnya air, kertas, tanah liat, daun-daunan, dan pohon sekitar sekolah dan sebagainya yg aman bagi anak.
Jadi pada tahap perkembangan anak usia dini pentingnya pembelajaran sains untuk anak usia dini memfokuskan anak agar anak dapat memecahkan permasalahan dalam sains maupun di dalam kehidupan sehari-hari, anak dapat dilatih untuk gigih dan tekun dalam menghadapi berbagai kesulitan, dapat meningkatkan dan mendewasakan pertimbangan dalam menempuh jalan kehidupan.
Sains dapat memabntu anak memahami tentang konsep sains dan kaeterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari, meletakkan aspek-aspek yang terkait dengan keterampilan sains, gagasan tentang alam sekitar, dan menumbuhkan minat untuk mengenal dan memepelajari benda-benda serta kejadian di luar lingkungannya. Oleh karena itu tujuan dari pendidikan sains hendaklah diarahkan pada penguasaan konsep dan dimensi-dimensinya, sehingga terbangun dari kesadaran akan kebesaran Tuhan Sang Maha Pencipta alam itu sendiri, yang ciptaannya kita pelajari selama ini.

2.4 Pengajaran Sains Dapat Dikembangkan Melalui Sains Sebagai Proses, Sains Sebagai Produk, Sains Sebagai Sikap
1. Sains sebagai proses
( Neuman, 1978 : 4 ) dikutip dalam Mohammad Syarif Sumantri ( 2015 : 81 ) sains sebagai proses yang mencakup menelusuri, mengamati, dan melakukan percobaan, sangatlah penting agar di pendidikan anak usia dini dapat berpartisipasi ke dalam proses ilmiah, karena keterampilan yang merela dapatkan dapat di bawa ke perkembangan lainnya dan bermanfaat selama hidupnya.
Pengembangan sains sebagai proses yang tujuannya mengarahkan pada penguasaan keterampilan-keterampilan yang diperlukan dalam menggali dan mengenal sains, agar anak dapat menguasai cara-cara kerja yang ditempuh dalam menyikapi alam dan menyelesaikan masalah yang terkait dengannya. Dalam Ali Nugraha ( 2008 : 28 ).
Orang dapat dikatakan menguasai sains apabila cara kerja dia dalam mengenal, menggali dan mengungkap segala sesuatu yang terkait dengan alam ini serta segala permasalahannya yang mengikuti proses ilmiah dengan kata lain mengungkap metode ilmiah ( scientific method ). Contohnya adalah anak dapat diperkenalkan secara bertahap tentang prosedur dan teknik yang benar dalam mengenal alam dan fenomenanya secara sederhana seperti proses mengamati, menggolongkan, mengukur, menguraikan, menjelaskan, mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting tentang alam, merumuskan problem, merumuskan hipotesis, merancang penyelidikan termasuk eksperimen-eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data-data.
Untuk itu kita sebagai pendidik bidang sains perlu memperkenalkan sains sejak awal agar anak mampu memahami dan terampil dalam melakukan proses sains secara benar. Untuk itu kita sebagai pendidik harus mengetahui standar-standar keterampilan sains yang benar, serta mengetahui keterampilan-keterampilan sains mana yang tepat dan sesuai dilatih dan dikuasai anak sebagai bekal bagi kehidupannya kelak, minimal bekal untuk melanjutkan studi ke tingkat sekolah dasar.
Berikut ini adalah tujuan dan target pengembangan pembelajaran sains pada anak usia dini yang dapat dikembangkan dalam setiap bidang serta pribadi yang terbentuk :
·         Pengusaan keterampilan yang diperlukan untuk menggali dan menemukan sains.
·         Menguasai prosedur kerja menyikap alam/lingkungan dengan mengikuti proses ilmiah.
·         Menguasai cara-cara dalam menyelesaikan masalah yang terkait dengan penggalian dan pengembangan pembelajaran sains.
·         Terampil dalam proses mengamati, menggolongkan dan mengukur.
·         Memiliki sikap ilmiah dan menggunakan pendekatannya dalam menyelesaikan masalah hidup yang dihadapinya.
2.      Sains sebagai produk
Menurut ( Carin dan Sund, 1989; Sinardi 1998 ) dikutip dari Ali Nugraha ( 2005 : 6 ) sains sebagai suatu produk terdiri dari fakta konsep prinsip hukum dan teori. Fakta adalah sesuatu yang telah atau sedang terjadi. Konsep adalah suatu ide yang merupakan generalisasi dari berbagai peristiwa atau pengalaman khusus. Sedangkan teori adalah komposisi yang dihasilkan dari pengembangan sejumlah proposisi (pernyataan berarti) yang dianggap memiliki hubungan yang sistematis.
Jadi pengenalan sains sebagai produk adalah pengenalan sains yang diarahkan pada pengenalan dan pengusaan fakta, konsep, prinsip, teori maupun aspek-aspek lain yang terkait dengan hal-hal yang ditemukan dalam bidang sains itu sendiri. Pengembangan pembelajaran sains difokuskan pada mengenali dan menguasai kumpulan pengetahuan, yang terpenting adalah diarahkan pada kemampuan anak untuk dapat menjelaskan yang diketahuinya secara memadai kepada orang lain.
Berikut ini adalah tujuan dan dan target pengembangan pembelajaran sains pada anak usia dini yang dapat dikembangkan dalam setiap bidang serta pribadi yang terbentuk :
·         Penguasaan fakta dan konsep, prinsip dan teori, yang memiliki pbekal kemampuan dasar.
·         Penguasaan segala sesuatu yang ditemukan dalam bidang sains.
·         Kemampuan yang menjelaskan segala sesuatu yang diketahui secara memadai.
·         Kemampuan menjelaskan cara-cara menguasai produk sains tersebut.

3.      Sains untuk sikap
Pengajaran sains untuk sikap adalah pengembangan pembelajaran sains untuk anak usia dini secara bertahap diarahkan pada suatu pembentukan pribadi atau karakter, sehingga anak sebagai sasaran dan yang akan menjadi output serta outcame pendidikan dan pembelajaran sains sejak dini telah ditanamkan benih-benih sikap yang sesuai tuntunan dan kriteria sebagai seorang dalam memahami sains. Dalam Ali Nugraha ( 2008 : 29 ).
Berikut ini adalah tujuan dan dan target pengembangan pembelajaran sains pada anak usia dini yang dapat dikembangkan dalam setiap bidang serta pribadi yang terbentuk :
·         Pembentukan pribadi  ( character building ) yang merupakan cerminan dari sikap.
·         Sejumlah sikap yang harus dikembangkan diantaranya : sikap jujur, sikap kritis, sikap kreatif, positif terhadap kegagalan, sikap rendah hati, tidak mudah putus asa, keterbukaan untuk dikritik dan diuji, sikap menghargai dan menerima masukan, berpedoman pada fakta dan data, hasrat ingin tahu tinggi, dan sebagainya.
·         Memiliki tingkat kreativitas.
·         Tumbuh dan berkembang minat untuk studi lanjut pada bidang sains  khususnya dan bidang lainnya.
2.5 Acuan Dalam Pembelajaran Sains
            Program pengembangan pembelajaran sains pada anak usia dini yang kita lakukan keberhasilan, apabila sebaliknya semakin sedikit kemampuan dan sikap anak  melekat pada setiap anak, maka dapat dikatakan program pengembangan pembelajaran sains pada anak usia dini yang dikembangkan  belum mencapai keberhasilan. Tingginya kemampuan dan sikap sains yang dimiliki anak mencerminkan akan semakin terampilnya anak dalam mengenali obyek sains, berpikir logis dan mengikuti prosesdur kerja sesuai standar kerja ilmiah.
Dalam Ali Nugraha ( 2008 : 32 ) dengan tercapainya tujuan-tujuan dari pengembangan pembelajaran sains berdasarkan dari berbagai subtansi anatar lain :
·         Memiliki bekal kemampuan dasar sains.
·         Memiliki keterampilan-keterampilan dalam memperoleh dan mengembangkan sains.
·         Mempunyai sikap imiah dan menggunakan pendekatannya.
·         Memiliki kesadaran akan keteraturan alam dan segala keindahan yang ada disekitarnya.
·         Memiliki tingkat kreativitas dan inovasi.
·         Tumbuhnya minat dalam diri anak.
1.      Acuan dalam pengembangan sains adalah relevan dalam pengembangan tujuan dan kurikulum sekolah, artinya dapat tercapainya suatu aspek pada anak dan dapat terwujudnya tujuan sekolah secara umum. Acuan dalam pembelajaran sains terhadap pembentukan kehidupan anak sebagai insan sekolah maupuninsan pribadi menjadi lebih meningkat baik secara kualitas maupun kuantitas.
2.      Acuan dalam pengembangan sains menjadikan anak berada pada suatu pembentukan karakter yang lebih manusiawi dan dihargai sebagai individu yang harus berkembang didunianya dan lingkungannya. Dimana sains memiliki sifat empiris, obyektif, logis dan ilmiah akan memberi acuan yang sangat berharga bagi anak untuk dapat menjadi pribadi yang memilki rasional dan dapat mengendalikan dirinya.
3.      Mengacu pada perkembangan teori perkembangan kognitif, yang terpenting adalah bukan anak menyerap sebanyak-banyaknya pengetahuan, tetapi adalah bagaimana anak dapat mengingat dan mengendapkan yang diperolehnya, serta bagaimana ia menggunakan konsep dan prinsip sains.
4.      Acuan dalam pengembangan sains disesuaikan dengan tuntunan perilaku yang terjadi secara nyata dalam kehidupan anak, sesuai dengan karakteristiknya banyak memberikan kesempatan pada anak untuk mengungkapkan ekspresinya.
5.      Acuan dalam pengembangan pembelajaran sains untuk anak usia dini dikembangkan dengan baik atau kondusif akan memberikan acuan belajar yang tinggi bagi mereka yang melaksanakannya.




BAB III
PENUTUPAN
3.1 Kesimpulan
llmu adalah pengetahuan yang dibuatkan sistematiknya, ilmu pengetahuan mempunyai emapat ciri yaitu : objektif, metodologis, sistematis, universal. Sains (inggris: scinece) berasal dari kata latin “scientia” yang berarti (1) pengetahuan tentang, atau tahu tentang; (2) pengetahuan, pengertian, faham yang benar dan mendalam. Ilmu merujuk ke: (1) studi sistematis (systematical study), (2) tubuh pengetahuan yang terorganisasi (the organized body of  knowledge), dan (3) pengetahuan teoritis (theoretical knowledge). Dikutip dalam  ( Wonorohardjo Surjani : 11 ).
Tujuan mendasar dari pendidikan sains adalah untuk dapat mengembangkan individu agar dapat melek terhadap ruang lingkup sains itu sendiri serta mampu menggunakan aspek-aspek fundamentalnya dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.
1.      Pentingnya pembelajaran sains pada anak usia dinj ditujukan agar anak-anak memiliki kemampuan memecahkan masalah yang dihadapinya melalui beberapa metode sains, sehingga terampil dan dapat menyelesaikan masalah.
2.      Pentingnya pembelajaran sains untuk anak usia dini adalah anak dapat mendasar, misalkan; tidak cepat-cepat dalam mengambil keputusan, dapat dilihat dari segala sudut pandang, berhati-hati terhadap informasi-informasi yang diterimanya serta bersifat terbuak.
3.      Pentingnya pembelajaran sains untuk anak usia dini adalah segala informasi yang diperoleh anak berdasarkan standar keilmuan yang semestinya, karena informasi yang disajikan merupakan hasil temuan dan rumusan yang obyektif serta sesuai kaidah-kaidah ilmiah.
4.      Pentingnya pembelajaran sains untuk anak usia dini adalah untuk menghayati sains yang berada dan ditemukan di lingkungan dan alam sekitarnya.
3.2 Saran
   Maka diharapkan kepada kita sebagai pendidik maupun orangtua semua baik yang tua maupun yang muda agar dapat mewujudkan dapat mengetahui tentang pembelajaran sains untuk anak usia dini dengan mengenalkan dasar-dasar dan konsep sains untuk anak usia dini.
DAFTAR PUSTAKA

Wonorahardjo Surjani. 2011. Dasar Dasar SAINS. Indeks : Jakarta
Nugraha Ali. 2008. Pengembangan Pembelajaran Sains Pada Anak Usia Dini. JILSI Foundation : Bandung
Nugraha Ali. 2005. Pembelajaran Sains Anak Usia Dini. JILSI Foundation : Bandung
Yulianti Dwi. 2010. Belajar Sambil Bermain Sains di Taman Kanak-Kanak. Indeks : Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar